Sunday, May 27, 2018

Be a girl with mind

Hello there! Setelah menyampah serapah di twitter waktu itu, akhirnya saya sempet nulis blog yang isinya bukan umpatan melainkan lebih ke sharing.

It's been more than 1 year I've been living in a mess. Then finally I choose to leave. Dengan segala emosi yang ada, keputusan, dengan berdaulah mau fokus beribadah, akhirnya saya pilih pergi. Bye messy mess!

Kerja di proyek means semua fasilitas untuk hidup akan disediakan oleh kantor. Di proyek saya, diberikan masing-masing 1 rumah untuk pekerja pria dan wanita. Dan saya termasuk pekerja wanita yang tinggal dalam mess. Tapi as you know me, saya bukan tipe orang yang bisa sharing kamar dengan orang karena:
  1. Yes! I am a introvert person, I need my personal space and personal time after meet a loooooottttt of people in the office. Sangat melelahkan dan butuh ngecharge energi semalaman untuk membuat mood baik lagi,
  2. I hate meet the same people in my whole time. Eneg gitu rasanya. Bangun tidur sampe tidur lagi ketemunya mereka. Gila sih ini. Entah gimana kalo nikah nanti. 
  3. I was a Cinderella living with the step mother and two sisters. Memang ga semua bagian mess saya bersihkan, tapi please dong, kamar mandi sama dapur kan pake semua. Masak gue doang yang bersihin?? 
  4. I can't be productive. I miss my hobby, watercolour, and my messy desk aaaaaakkkkk. 
  5. Saya nggak nyaman dengan orang-orang disana. Semua harus bareng-bareng (pergi-pulang bareng, sampe ngambil laundryan harus bareng-bareng juga, mau kemana juga bareng-bareng) 
  6. Mengurangi rasa profesionalitas. Dmn I hate it. 
Segitu curhatan saya yang mewakili twit sampah saya kala itu. Ya kalo di blog sih masih disaring-saring mau nyampah juga. Kalau di twitter masih gak kontrol emosi haha!

source: pinterest


Jadi ya kenapa saya milih judul be a girl with mind karena.... dari kecil saya sudah diajarin sama Papa saya, "Perempuan itu yang paling penting punya iner beauty. Ketika kamu punya itu, kamu bakalan dapet yang terbaik yang ada di dunia." he said like a king to her princess sambil makein tiara (oke ini lebay). Sejak saat itu saya mencari-cari seperti apa bentuk inner beauty itu. Proses pencarian dimulai sejak itu. Dan sampai sekarang, entah sudah ketemu apa belum inner beauty saya. Tapi masih terus nyari.

Apalah gunanya perempuan yang tampil super oke di depan khalayak kalo sikapnya malesan. Apalah gunanya baju di setrika sampe klimis tapi baju yang lain dibiarin amburadul menuhin karpet ruang tamu. Apalah gunanya pake 10 step korean skin care kalau bersihin kamar mandi which is itu tempat yang buat ngebersihin badan aja gak mau. 
Apalah gunanya sok ngomong oke sana-sini tapi tiap pulang ke rumah langsung telponan ama pacar tanpa ganti baju dulu. Apalah gunanya sok-sok masakin bekal buat pacar kalau buang sampah makanan dari dapur ke tong sampah depan aja nggak mau. Situ princess atau step sister hayooo?

dokumentasi pribadi sebelum buka bersama

For me, perempuan berkelas itu yang mandiri, tangguh, smart, banyak wawasan, punya pendirian, have a good personal behaviour, nice grooming, bisa menempatkan diri dimanapun, tahu posisiya, like a skyscraper, like a skyscraper (malah nyanyi).

Cukup sekian curhatan kali ini. Bagi kalian para wanita yang mungkin tersinggung dengan pos saya sih nggak masalah. Karena saya dibesarkan oleh didikan serba mandiri, jadi ya beginilah pola pikir saya. 


Xoxo, 
Kiky



Wednesday, April 18, 2018

JOGJA





Jogja,
terkomposisi mimpi dan kenangan
tertulis nyanyian dan harapan
tercium cita dan cinta
terhanyut aku akan nostalgia

15 April 2018

Wednesday, February 14, 2018

Got Lost

My routine:
Wake up in the moring, go to work, confuse what to do, a lot things to do, and then doing nothing. I don't know how to start, or how to learn.

I went to bookstore, I bought them, I read them, about this job. Then whooze! Dissapearing. 
The book had so many great idea, innovation, give me more knowledge, and guidding me (supposed to be).  
But how to implement them to my project? How's the impact of the book i've read to company, especially to myself. 
Is it usefull? or not?

On the way to city, after rain, gloomy evening.

I got lost
I lost of the meaning of why I do this? for everyday in my messy and dusty desk.
That question  often whispered in my ear by someone I don't know. 
But the answer because has no continouity.
I have no right answer except I was paid for this or I am a permanent employee.
And the other reason is I would say "this is my passion" but I have no desire to say it. Repeat, I have no desire to say it. D*mn!

I need to deeply see why the reason of doing something. Deep and deep. 
Maybe for some people is not important. But I am a feeling person. I have to have a big reason of doing something, and also the purpose.  
Well. Maybe some people say that you waste your time of thinking unimportant thing, just do it because you've paid for your job.

I am not that kind of people, I am a feeling person and it almost 100%. I need know what's the meaning of life, or whatever is it. I still looking for all the reason why I was here. Even I know, that the answer is always on behind. I mean after this is all over. Or when I passed this step or something. 

When you feel like me, don't forget to what a human have to do.
Ikhtiar. Be grateful. 

Monday, January 22, 2018

Seperempat Abad

Dear, universe,
Terima kasih telah memberikan 25 tahun yang luar biasa!

 So, happy birthday for me dulu lah yang udah seperempat abad.

Dulu resolusi pas ulang tahun ke empat adalah: tahun depan gue mau ngerayain jomblo perak pokoknya. Dan konyolnya nggak terjadi. Padahal kalo beneran, saya mungkin lagi jalan-jalan ke Hogwarts.

Ya tapi, 25 tahun nggak sekedar tentang status jomblo atau nggak sih. Setahun penuh kayaknya saya nggak punya hidup lain selain marketing, proyek, lrt city dan adhi, yang menurut saya jauh lebih berkesan dari pada jalan-jalan ke Hogwarts (boong ding, tetep masih pengen).

Dan momen ulang tahun adalah hal yang biasa saja menurut saya. Tapi terima kasih untuk teman-teman seproyek seperjuangan panas-panasan di proyek yang tak ber AC selama setahun udah mau ngasih surprizeeee. Hail Sentul!

My LRT City team

Tapi ada yang membuat saya sedih setengah mampus di awal usia ke 25 ini dan menurut saya parah banget.

Saya tidak punya waktu untuk teman-teman dan keluarga, dan hobi juga. Semua waktu tersita di proyek. Entah saya yang salah, atau memang takdirnya begitu.
Terlebih sedih lagi adalah ketika saya telat tahu kalau si Rahmi mau menikah akhir Maret ini. Jadi ceritanya, si Rahmi ini mau kasih kabar langsung ke saya, tapi apalah daya, jadwal kami selalu tak pernah berjodoh. Setelah Eta, Sri, Ijah tahu, saya baru tahu belakangan karena dapet kode dari Eta. Demi apaaaaa.... Akhirnya nelpon Rahmi sambil minta maaf, terus malemnya nelpon Ijah sambil nangis.

Momen ini mak jleb-jleb bikin saya nangis dan menyadari kalau hidup tak sekedar cuma urusan kantor atau proyek. Hellowww, Kiky! Get a life dong! Kamu kemanakan sih hobi kamu, keluarga kamu sama temen-temen kamu? Kamu kemanakan blog ini? Kamu kemanakan cita-cita kamu yang lain?

But well, apa yang terjadi setahun belakangan saya pilih sebagai pelajaran saja. Tidak perlu disesali dan tetap bersyukur. Tapi saya punya resolusi buat get a life. Kembali ke dunia yang lama. Banyakin jalan-jalan. 

Oh take me back to the start~


while listening to
The Scientist - Coldplay

Friday, January 5, 2018

a present

Present adalah sebuah kata yang berarti hadiah yang tampak secara kongkrit. Entah apakah kata present atau gift yang cocok untuk menggambarkan 2017 kemarin ini, tapi anggaplah hadiah-hadiah yang diberikan kepada saya adalah kongkrit.

Alhamdulillah 2017 yang luar biasa. Singkat cerita setahun kemarin saya resmi bekerja di perusahaan BUMN dan hampir seluruh waktu dihabiskan memikirkan proyek. Tiga bulan terakhir dipenuhi rutinitas event kawasan yang membuat saya akhirnya jenuh sampai ke penghujung tahun. Dan di akhir tahun ini saya memilih bertemu dengan SDM untuk konsultasi.

Jadi grafik semangat diawal tahun masih tinggi dan makin ke belakang makin turun.  Agak sedikit sesuai dengan hasil test kreaplin waktu itu. Saya menyadari bahwa makin kesini  mereasa makin introvert. Kehidupan proyek ini membuat tidak punya me time, karena pagi-siang-malam-sampai pagi lagi, saya bertemu dengan orang-orang yang sama dan membuat sangat lelah, dan jeuh. Saya kadang harus pergi sendiri, entah belanja atau nonton sendiri demi memulihkan energi. Entahlah kenapa gini amat -_-"


Diawal tahun ini ada beberapa hal yang telah saya renungi. Setelah sebelumnya akhirnya sharing dengan atasan saya tentang karir, kejenuhan, semangat, cita-cita, jobdesc dan tentu saja marketing. Sedikit mendapat pencerahan dan semangat baru, saya berdoa di tahun ini saya dapat menjalankan kewajiban dan tanggung jawab saya sebaik mungkin. Mengingat saya sudah bukan seorang anak MT, melainkan sudah menyandang status pegawai tetap, karir di depan sudah menunggu insan-insan yang siap duluan menyandang jabatan.

Down, sebagai pegawai baru setahun memang wajar menurut saya. Tapi bukan berarti jalan sudah berhenti disitu. Ada kalanya kita down karena jenuh akan rutinitas, itu yang dirasakan. Ada kalanya saya down karena "kok gue ngerjainnya gini-gini aja sih? kalo gini doang mah gak butuh arsitek." sesombong itu saya. But well, ketika kamu bisa mikir seperti itu, sebenernya bukan berbarti kamu sombong. Tentang apa yang kita rasakan, kita sendiri yang paling paham. Mungkin disisi lain, kita memang sudah benar-benar memahami tugas kita dan pantas untuk mengerjakan sesuatu yang lebih dari itu. Seperti sekolah, ketika kamu sudah menguasai pelajaran kelas 1, kita akan naik kelas 2. Dan seterusnya. That's what we call: kompetensi.

Gila kayaknya gue lebih cocok jadi SDM dibanding marketing. (amin)

Tulisan jadi bertubi-tubi padahal intinya mau mengucapkan
WELCOME TO 2018!



Royal Sentul Park - LRT City Sentul